Contoh Proposal PTK _ 4



Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Kelas I SD Pada Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang di SD Harapan Bangsa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah                       
Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan di antara hal-hal itu. Untukdapat memahami struktur serta hubungan-hubungannya di perlukan penguasaan tentang konsep-konsep yang terdapat dalam matematika. Hal ini berarti belajar matematika adalah belajar konsep dan struktur yang terdapat dalam bahan-bahan yang sedang dipelajari, serta mencari hubungan di antara konsep dan struktur tersebut.
Matematika disebut ilmu deduktif, karena baik isi maupun metode pencarian kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan umumnya. Metode pencarian kebenaran yang dipakai oleh matematika adalah metode deduktif, sedangkan ilmu pengetahuan alam adalah induktif atau eksperimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bias dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus dibuktikan secara deduktif.
Matematika disebut ilmu tentang pola, karena dalam matematika sering dicari keseragaman untuk membuat generalisasi. Matematika adalah ilmu tentang hubungan, karena dalam matematika konsep-konsepnya satu sama lain saling berhubungan.
Pada dasarnya tujuan belajar matematika yang sesuai dengan hakikat matematika merupakan sasaran utama. Sedangkan perananan teori-teori belajar merupakan strategi terhadap pemahaman matematika. Dengan demikian diharapkan bahwa matematika dapat dipahami secara wajar sesuai dengan kemampuan anak. Jadi perlu kita sadari bahwa tujuan akhir dari belajar matematika adalah pemahaman terhadap konsep-konsep matematika yang relatif abstrak. Sedangkan strategi teori-teori belajar tentang pengalaman lingkungan dan manipulasi benda konkret hanyalah sekedar jembatana dalam memahami konsep-konsep matematika tersebut yang pada akhirnya tetap siswa harus belajar sesuai dengan hakikat matematika.
Sebagaimana diketahui bahwa objek langsung belajar matematika itu pada hakikatnya meruapakan penanaman penalaran dan pembinaan keterampilan dari konsep-konsep, yaitu ide-ide atau gagasan-gagasan yang terbentuk dari sifat-sifat yang sama. Di lain pihak dihubungkan dengan proses pembelajaran yang diselenggarakan guru dalam rangka transfer kurikulum, maka konsep-konsep matematika yang tersusun dalam GBPP matematika SD dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis konsep, yaitu bahan kajian matematika di SD. Ruang lingkup materi/matematika di SD mencakup: aritmetika (berhitung), pengenalan aljabar, geometri, pengukuran, dan kajian data (statistik).
Kelima unit matematika yang termasuk ruang lingkup dalam pembelajaran matematika di SD tersebut pada dasarnya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dalam bentuk sasaran dan kemampuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika di SD.
Salah satu bahan kajian matematika di SD yaitu Unit geometri mengutamakan pengenalan bangun datar dan bangun ruang. Namun di SD, istilah geometri sendiri tidak diperkenalkan. Konkret, dan diawali dengan bangun-bangun yang sering dijumpai para siswa dalam kehidupan seharihari. Bangun-bangun datar yang diperkenalkan di antaranya segitiga, lingkaran, persegi, persegipanjang, trapezium, jajargenjang, dan macam-macam sudut. Sedangkan bangun-bangun ruangnya seperti kubus, balok, limas, kerucut, bola tabung, dan macam-macam prisma. Perlu kita perhatikan, bahwa yang dimaksud dengan bangun-bangun datar secara konsep adalah kerangkanya bukan daerahnya, dan yang dimaksud bangun-bangun ruang secara konsep adalah yang berongga dan berisi, bukan daerah atau ruangnya.
1.2 Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah diutarakan sebelumnya, maka masalah, dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Bagaimana upaya mengatasi kesulitan belajar siswa pada materi pembelajaran bangun datar dan bangun ruang ?
  2. Bagaimana penerapan pembelajaran dengan media pembelajaran terhadap materi bangun datar dan bangun ruang ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar siswa dalam hal pemeroleh hasil belajar pada materi bangun datar dan bangun ruang.
  2. Untuk mengatasi kesulitan belajar siswa menggunakan media belajar yang relevan. Pada materi bangun datar dan bangun ruang.
1.4 Pembatasan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan latar belakang masalah serta permasalahan yang dijumpai dalam penelitian tindakan kelas sehubungan dengan kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran matematika di kelas I, maka masalah dalam penelitian ini hanya membahas dalam penelitian ini hanya membahas masalah dan faktor penyebab siswa sulit atau tidak mampu memahami materi pelajaran serta pengaruh besar peranan media pembelajaran terhadap keberhasilan proses belajar mengajar.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
  1. Bagi siswa sendiri :
a. Memberika motivasi minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika di kelas I
b. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam membentuk dan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, proses belajar matematika.
c. Untuk mengetahui pengaruh besar media dalam keberhasilan pembelajaran matematika di kelas I
  1. Bagi Sekolah yaitu :
a. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan siswa mengerjakan materi bangun datar pembelajaran di SD
b. Sebagai bahan evaluasi bagi sekolah untuk sebagai acuan sebagai perbandingan terhadap proses pembelajaran pada tahun berikutnya.
  1. Bagi Guru yaitu :
a. Mampu meningkatkan ketrampilan mengajar bagi guru sendiri
b. Mampu mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran matematika
c. Mampu memperbaiki dan meningkatkan prestasi belajar bagi siswa.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Matematika
Matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbul yang padat arti dan semacamnya, sehingga para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah system matematika. Mengingat adanya perbedaan karakteristik itu, maka diperlukan adanya kemampuan dari seorang pendidik menjebatani antara dunia anak yang belum berfikir secara deduktif untuk dapat mengerti dunia matematika yang bersifat deduktif.
Dunia Matematika meruapakan system deduktif telah mampu mengembangkan model-model yang merupakan contoh dari system ini. Model-model matematika sebagai interprestasi dari system matematika ini kemudian dapat digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan dunia nyata. Manfaat lain yang menonjol adalah dengan matematika dapat membentuk pola piker anak yang mempelajarinya menjadi pola piker matematis yang sistematis, logis, kritis dengan penuh kecermatan. Namun sayangnya, pengembangan system atau model matematika itu tidak selalu sejalan dengan perkembangan berfikir anak terutama pada anak-anak usia SD.
Menurut Russefendi (1989;23) menyatakan bahwa matematika itu terorganisasikan dari unsure-unsur yang tidak didefini9skan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil setelah dibuktikan ilmu deduktif.
Selanjutnya dalam Russeffendi (1988;2) diungkapkan beberapa pendapat tentang matematika seperti menurut Johnson dan Rising (1972) menyatakanbahwa matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logic matematika itu adalah cermat, jelas dan akurat representasinya dengan sibul dan padat, lebih berupa bahasa simbul mengenai arti daripada bunyi, matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat atu teori-teori dibuat secara deduktif berdasarkan kepada unsure yang tidak didefiniskan, aksioma, sifat atau teori yang telah dibuktikan kebenarannya; matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide, dan matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisannya.
Menurut Reys (1984) mengatakan bahwa matematika adalah telaahan pola hubungan suatu jalan atau pola berfikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. Menurut Kline (1973) bahwa matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi beradannya itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan social, ekonomi, dan alam.
Menurut Tambunan (1987;29) menyatakan bahwa, matematika adalah pengetahuan mengenai kuantiti dan ruang, salah satu cabang dari sekian banyak ilmu sistematis, teratur, dan eksak. Matematika adalah angka-angka perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong manusia memperkirakan secara eksak berbagai ide kesimpulan. Matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem menarik. Matematika membahas factor-faktor dan hubungan-hbungannya, serta membahas problem ruang dan bentuk. Matematika adalah ratunya ilmu.
2.2 Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
2.2.1 Fungsi Matematika di SD
Fungsinya mata pelajaran matematika sebagai : alat, pola piker, dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah.
Dengan mengetahui fungsi-fungsi matematika tersebut diharapkan pengelola pendidikan matematika dapat memahami adanya hubungan antara matematika dengan berbagai ilmu lain atau kehidupan. Sebagai tindak lanjutnya sangat diharapkan dapat membantu proses pembelajaran matematika di sekolah.
Siswa diberi pengalaman menggunakan matematika sebagai alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau table-tabel dalam model-model cerita atau soal-soal uraian matematika lainnya. Bila seorang siswa dapat melakukan perhitungan, soal-soal unit Geometri seperti bangun ruang dan bangun datar, tetapi tidak dapat menyatakan tepat atau tidaknya operasi yang digunakan atau tidak tahu alasannya, maka tentunya ada yang salah dalam pengerjaannya atau ada sesuatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu.
Dalam pengerjaan matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh diharpkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Selanjutnya dengan abstrak ini. Siswa dilatih untuk membuat perkiraan terkaan, atau kecenderungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus (generalisasi). Di dalam proses penalarannya kesemuanya itu harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa, sehingga pada akhirnya akan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran matematika di sekolah.
2.2.2 Tujuan Pendidikan Matematika di SD
Tujuan pendidikan matematika di Jenjang dasar mengacau kepada fungsi matematika serta kepada tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam GBHN. Diungkapkan dalam GBPP matematika kurikulum pendidikan dasar, bahwa tujuan umum diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar meliputi dua hal, yaitu :
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola piker matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar yang pertama di atas memberikan penekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa. Sedangkan pada tujuan yang kedua memberikan sehari-hari maupun dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Adapun tujuan khusus pengajaran matematika di jenjang pendidikan dasar ini terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama tujuan pengajaran matematika di SD dan yang kedua tujuan pengajaran matematika di SLTP.
Diungkapkan dalam GBPP Matematika SD, bahwa tujuan pengajaran matematika di SD meliputi empat hal, yaitu :
1) Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari;
2) Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika;
3) Memiliki pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP);
4) Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif, dan disiplin.
Tujuan-tujuan khusus pengajaran matematika di SD tadi meruapakan realisasi dari fungsi matematika baik sebagai alat, sebagai pola piker, maupun sebagai ilmu. Namun rasanya ada satu hal yang perlu kita garis bawahi dari tujuan khusus pengajaran matematika di SD ini, yaitu tentang perlu adanya usaha-usaha dari kita sebagai guru di SD untuk membina keterampilan matematika, khususnya keterampilan berhitung.
Perlu kita ketahui, bahwa tujuan umum matematika di jenjang pendidikan dasar adalah tujuan yang paling umum. Sedangkan tujuan-tujuan yang lebih khusus yang merupakan tujuan pengajaran matematika di SD merupakan tujuan tujuan intitusional pendidikan matematika di SD. Kesemua tujuan itu bersifat dinamis dan cukup luwes sesuai dengan tuntutan yang mungkin muncul. Namun demikian, secara umum setiap.
setiap tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran matematika pada dasarnya merupakan sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil dari proses pembelajaran matematika tersebut. Karenanya sasaran tujuan pembelajaran matematika tersebut dianggap tercapai bila siswanya telah memiliki sejumlah pengetahuan dan kemampuan di bidang matematikanya.
Sasaran pembelajaran matematika di SD :
a) Pembentukan keterampilan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari ilmu lain.
b) Penataan nalar yang logis dan rasional
c) Pembentukan sikap kritis, cermat, dan jujur.
Kemampuan matematika yang diharapkan :
a) Kemampuan melakukan pengerjaan hitung dasar ( +, -, x, : ) dengan capat dan benar, termasuk kemampuan menggunakan urutan-urutan pengerjaan hitung tertentu (algoritma).
b) Kemampuan menggunakan sifat-sifat sederhana dalam menyelesaikan soal. Misalnya mengidentifikasi apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, cara-cara menjawab, serta mencari alternative lain dari suatu penyelesaian.
c) Kemampuan mengenal dan menyusun suatu pola atau keteraturan, misalnya pola bilangan tertentu.
d) Kemampuan menunjukkan bangun-bangun datar dan bangun-bangun ruang yang sederhana.
e) Kemampuan melakukan pengukuran-pengukuran dan perhitungan yang sederhana mengukur panjang, keliling, luas, berat, volume, sudut, dan waktu.
f) Kemampuan menyimpulkan, mengolah, menyajikan, membaca, dan menafsirkan data yang sederhana.
g) Kemampuan memecahkan masalah melalui analisis sederhana, yaitu menuliskan yang diketahui, yang ditnayakan, dan pengerjaan, sehingga membentuk model matematika yang sederhana.
2.3 Media
Dalam proses belajar mengajar, media mempunyai peranan yang penting. Sebab dengan adanya media bahan mudah dipahami oleh siswa.
Media dapat dklasifikasikan menadi tiga golongan yaitu :
1. Media Visual
Media visual merupakan media yang hanya dapat dipandang. Media ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a) Media visual yang tidak diproyeksikan
Media visual yang tidak diproyeksikan adalah media yang tidak dapat dipantulkan pada layar. Hal itu karena yang dipakai tidak transparan atau tidak tembus cahaya. Walaupun demikian, media ini paling banyak digunakan oleh guru, karena mudah membuatnya dan penggunaannya.
Faktor-faktor yang mendukung digunakannya media ini antara lain daerah terpencil, belum adanya listrik, kurangnya dana dan peralatan yang tersedia.
Beberapa media yang termasuk jenis ini antara lain
1) Gambar mati atau gambar diam
Gambar mati mungkin berupa foto, dicetak atau dilukis. Gambar gambar mati dapat diperoleh dari majalah, surat kabar atau memotret objek yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan.
2) Ilustrasi
Ilustrasi adalah gambar atau wujud lain yang menyertai teks. Jadi tujuan ilustrasi adalah memperjelas teks atau buku cetakan yang diterbitkan.
3) Karikatur
Karikatur adalah gambar yang disederhanakan bentuknya dan biasanya berisi sindiran.
Karikatur dapat digunakan sebagai media komunikasi untuk semua tingkatan social, mulai dari orang-orang yang tidak bersekolah sampai masyarakat yang berpendidikan tinggi.
4) Poster
Poster merupakan gambar yang dipadukan dengan unsur-unsur visual lain seperti garis, gambar dan kata-kata singkat dengan maksud menarik perhatian dan mengkomunikasikan pesan secara efektif. Karena itu poster biasanya menggunakan warna-warna yang menarik agar mendapat perhatian.
5) Bagan
Bagan adalah gambaran sesuatu yang dilukiskan dengan garis, gambar dan kata-kata. Tujuannya untuk meragakan adanya hubungan, perkembangan atau perbandingan.
6) Diagram
Diagram adalah suatu gambaran dari suatu objek atau proses.
7) Grafik
Grafik adalah pemakaian lambing-lambang visual seperti garis, titik-titik, gambar atau bentuk-bentuk tertentu sehingga menarik dan mudah difahami. 
8) Peta
Peta adalah permukaan bumi jika dilihat dari atas dengan skala tertentu.
b) Media visual yang diproyeksikan
Media ini dapat diproyeksikan (dipantulkan) pada layar, karena bahan yang dipakai tembus cahaya (transparan).
Media ini dapat diproyeksikan pada berbagai jenis proyektor, antara lain pada : Over Head Projector (OHP), slide proyektor, film strip projector. Yang diproyeksikan pada layar dapat berupa tulisan, grafik, gambar, peta, diagram, dan lain-lain.

2. Media Audio
Media audio merupakan jenis media yang hanya dapat didengar. Media ini perlu dipelajari karena dalam menerima pelajaran dari guru, siswa selalu mendengarkan. Adanya media ini diharapkan dapat mengurangi kejenuhan.
Bentuk-bentuk program audio antara lain : wawancara, berita radio, warta berita, drama radio, diskusi, seminar, dan lain-lain.
3. Media Audio-Visual
Media ini selain dapat didengar juga dapat dipandang (dilihat, diamati). Contoh : slide suara dan televise.
Slide suara merupakan media visual yang diiringi suara, orang sering menyebut film bingkai. Slide suara menampilkan gambar-gambar mati (tidak bergerak) tetapi diiringi komentar (suara).
Televise (TV) merupakan suatu media yang menampilkan gambar yang bergerak. Adapun sumber gambar dan suaranya dari jarak jauh yang dapat dihadirkan di sekolah, di rumah dan lain-lain melalui layer kaca.
Menurut Miarso (dalam Raharjo), 1986:48) memberikan batasan media pengajaran sebagai segala siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Menurut Raharjo ( 1986:51) bahwa media memiliki nilai-nilai praktis berupa kemampuan untuk :
1. Membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah.
2. Membawa objek yang berbahaya dan sulit, misalnya untuk menjelaskan sistem buas, bola bumi, dan sebagainya.
3. Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti candi borobudur.
4. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, seperti microorganisme.
5. Mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya dengan slow motion
6. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
7. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar.
8. Membangkitkan motivasi belajar
9. Memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.
10. Menyatikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
11. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut ruang.
12. Menontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
Menurut pendapat Ely (dalam Danim, 1994:13) menyebutkan manfaat media dalam pengajaran adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan mutu pendidikan dengan cara meningkatkan kecepatan belajar (rate of learning), membantu guru untuk menggunakan waktu belajar siswa secara baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi dan membuat guru lebih terarah untuk meningkatkan semangat belajar.
b. Memberi kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan memperkecil atau mengurangi control yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya serta memungkinkan mereka belajar menurut cara yang dikehendakinya.
c. Memberi dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan menyajikan/merencanakan program pengajaran yang logis yang sistematis, mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian, baik sebagai pelengkap maupun sebagai terapan.
d. Pengajaran dapat dilakukan secara mantap karena meningkatnya kemampuan manusia untuk memanfaatkan media komunikasi, informasi dan data secara lebih konkrit dan rasional.
e. Meningktakan terwujudnya kedekatan belajar (immediacy learning) karena media pengajaran dapat menghilangkan atau mengurangi jurang pemisah antara kenyataan di luar kelas dan didalam kelas serta memberikan pengetahuan langsung.
f. Memberikan penyajian pendidikan lebih luas, terutama melalui media massa, dengan jalan memanfaatkan secara bersama dan lebih luas peristiwa-peristiwa langka dan menyajikan informasi yang tidak terlalu menekankan batas ruang dan waktu.
Menurut Bretz (dalam Raharjo, 1986:52) mengklasifikasi media menurut cirri utama media menjadi tigas unsure, yaitu suara, visual, dan gerak. Selanjutnya, klasifikasi tersebut dikembangkan menjadi tujuh kelompok, yaitu :
a. Media audio-visual-gerak ; merupakan media paling lengkap karena menggunakan kemampuan audio-visual dan gerak.
b. Media audio-visual-diam ; memiliki kemampuan audio-visual tanpa kemampuan gerak.
c. Media audio-semi-gerak ; menampilkan suara dengan disertai gerakan titik secara linear dan tidak dapat menampilkan gambar nyata secara utuh.
d. Media visual-gerak ; memiliki kemampuan visual dan gerakan tanpa disertai suara.
e. Media visual-diam ; memiliki kemampuan menyampaikan informasi visual tetapi tidak menampilkan suara maupun gerak.
f. Media audio ; media yang hanya memanipulasi kemampuan mengelaurkan suara saja.
g. Media cetak ; media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf-huruf dan symbol-simbol verbal tertentu saja.
Menurut Sadiman dkk 2002:6, media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan pengirim pesa kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran, perasaan, perhatian, dan minat serta efesien sesuai dengan yang diharpkan.
Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan pengguaan media pengajaran adalah (1) agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna berdaya guna, (2) untuk mempermudah bagi guru/pendidik dalam menyampaikan informasi materi kepada anak didik, (3) untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik, (4) untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pean yang disampaikan oleh guru/pendidik, (5) untuk menghidarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.
Menurut Sudjana, dkk (2002:2) menyatakan tujuan pemanfaatan media adalah (1) pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi, (2) bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami, (3) metode mengajar akan lebih bervariasi, dan (4) siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Jadi yang dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan media adalah (1) efektivitas dan efesiensi dalam kegiatan belajar mengajar, (2) meningkatkan motivasi belajar siswa, (3) variasi metode pembelajaran, dan (4) peningkatan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Sadiman, dkk. (2002:16), media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya (1) obyek yang terlalu besar bias digantikan dengan realita, gambar, film, atau model, (2) obyek yang kecil bias dibantu dengan menggunakan proyektor, gambar, (3) gerak yang terlalu komplek (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain, dan (6) konsep yang terlalu luas (misalnya gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan lain-lain.

2.4 Pengertian Belajar
Belajar dalam arti yang luas adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar dalam berbagai dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi. Proses disini maksudnya adalah adanya interaksi antara individu dengan suatu sikap, nilai atau kebiasaan, pengetahuan dan keterampilan dalam hubungannya dengan dunianya sehingga individu itu berubah.
Pengertian belajar secara komprehensif menurut pendapat Bell-Gredler (1986 : 1) yang menyatakan belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Menurut pendapat Fontana (1981), mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman.
Menurut pendapat Gagne (1985) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
Menurut pendapat Bower dan Hilgard (1981), yaitu bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh insting, kematangan atau kelelahan dan kebiasaan.
2.5 Objek Pembelajaran Matematika SD
Objek dasar yang dikaji dalam pembelajaran matematika adalah objek abstrak yang dapat berupa fakta, konsep, operasi/keterampilan, dan prinsip. Keempat objek dasar matematika yang tersebar mulai dari kelas I sampai kelas VI.
Menurut Prof. Robert M. Gagne seorang ahli psikologi yang telah menggunakan matematika sebagai medium untuk menguji dan menggunakan teori belajar dalam pengembangan kurikulum pembelajaran matematika (Proyek Matematika Universitas Maryland), bahwa dalam pembelajaran matematika ada dua objek, yaitu :
1. Objek langsung belajar matematika
1) Fakta (fact)
2) Operasi atau keterampilan (skill)
3) Konsep (concepts)
4) Prinsip atau aturan (principles)
2. Objek tidak langsung belajar matematika
1) Kemampuan menyelidiki (inquiry ability)
2) Kemampuan memecahkan masalah (problem solving)
3) Disiplin diri (self dicipline)
4) Bersikap positif (apresiasi) terhadap matematika (appreciation of mathematics).
5) Tahu bagaimana semestinya belajar (transfer of learning)
Objek-objek langsung belajar matematika adalah empat kategori yang juga merupakan empat kategori isi matematika, sedangkan objek tidak langsung merupakan manfaat tidak langsung belajar matematika.
1) Fakta
Fakta matematika adalah konvensi (kesepakatan) dalam matematika seperti lambing-lambang dalam matematika. Misalnya angka (lambing/symbol bilangan)ruas garis, sudut dan notasi-notasi lainnya. Angka “3” dengan kata “tiga” keduanya merupakan fakta tanda “<” dengan kata “sudut” juga merupakan fakta, demikian pula pula notasi “+” (plus/tambah) merupakan fakta. Fakta dipelajari melalui berbagai teknik seperti menghapal, latihan, permainan, informasi, dan sebagainya. Seseorang sudah dipanjang belajar fakta, apabila sudah dalam berbagai situasi yang berbeda.
2) Operasi atau Keterampilan
Keterampilan matematika adalah operasi dan prosedur, sehingga siswa mempunyai kemampuan untuk melakukan atau memberikan jawaban dengan cepa dan tepat. Misalnya pembagian cara panjang, penjumlahan pecahan, perkalian pecahan decimal, membagi pecahan decimal, dan prosedur algoritma lainnya. Sedangkan dalam geometri keterampilan matematika itu diantaranya membagi ruas garis menjadi dua bagian sama panjang, membagi sudut menjadi dua bagian sama besar, melukis sudut siku-siku, dan sebagainya. Siswa dianggap telah menguasai keterampilan, apabila merka telah dapat mendemonstrasikan keterampilan secara tepat dan benar dalam menyelesaikan berbagai jenis soal.
3) Konsep
Konsep dalam matematika adalah ide abstrak yang dapat digunakan yang memungkinkan, yang memudahkan orang dapat mengelompokkan suatu objek atau kejadian kedalam contoh atau bukan contoh. Segitiga, jari-jari, kubus, ketidaksamaan, eksponen (pangkat) adalah beberapa contoh konsep dalam matematika. Seseorang yang telah mempelajari persegi, akan mampu mengelompokkan bangun-bangun yang merupakan persegi dan yang bukan persegi. Seseorang yang telah memahami konsep akan mampu memisahkan contoh-contoh konsep tersebut dan yang bukan contoh-contoh konsep tersebut.
4) Prinsip atau Aturan
Prinsip atau aturan atau adil adalah objek yang paling kompleks dan paling abstrak. Aturan ini dapat berupa sifat atau teori atau adil. Aturan merupakan rangkaian konsep dan fakta serta hubungan di antara konsep-konsep tersebut. “Jumlah dua bilangan ganjil adalah genap” adalah contoh sebuah aturan. Dalam contoh ini melibatkan beberapa konsep dan hubungan di antara konsep-konsep itu. Untuk mengerti dalil atauran ini. Seseorang harus telah memahami konsep bilangan ganjil, konsep bilangan genap, dan konsep bilangan bulat.
2.6 Strategi Pembelajaran Matematika di SD
Dalam pembelajaran matematika di SD, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun social. Dalam matematika belajar aktif tidak harus selalu dibentuk kelompok, belajar aktif dalam kelas yang cukup besarpun bias terjadi, dalam pembelajaran matematika siswa dibawa kea rah mengamati, menebak, berbuat, mencoba, mampu menjawab pertanyaan mengapa, dan kalau mungkin mendebat. Prinsip belajar aktif inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran matematika yang kreatif dan kritis.
Menurut petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di SD, bahwa penerapan strategi yang dipilih dalam pengajaran matematika haruslah tertumpuk pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua unsure pembelajaran, serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa. Dengan demikian memberi rupa hingga melibatkan semua indra siswa secara optimal.
Pengajaran bahan ajar perlu beragam, bahkan mungkin tidak harus terus-menerus dilaksanakan di dalam kelas, tetapi sekali-kali kita melaksanakan pembelajaran matematika di luar kelas. Kreativitas guru amat penting untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang secara khusus cocok dengan kelas yang dibinanya termasuk sarana dan prasarananya.
Dengan peningkatan optimalisasi interaksi dalam pembelajaran matematika, untuk pokok bahasan/sub pokok bahasan tertentu yang memungkinkan dapat kita capai dengan pendekatan penemuan, pemecahan masalah, atau penyelidikan. Demikian pula dengan soal-soal untuk balikan atau tugas dapat berupa soal yang mengarah pada jawaban lebih dari satu cara untuk menyelesaikannya, dan memungkinkan siswa untuk mencoba dengan berbagai cara sepanjang cara tersebut benar.
Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep. Tidak hanya kepada “bagaimana” suatu soal harus diselesaikan, tetapi juga pada “mengapa” soal tersebut diselesaikan dengan cara tertentu. Dalam mengingat obyek matematika adalah abstrak, sedangkan siswa, lebih-lebih siswa usia SD masih berfikir konkret.
2.7 Teori-Teori Belajar Matematika
Jerome S.Buner dari Universitas Harvard menjadi sangat terkenal dalam dunia pendidikan umumnya dan pendidikan matematika khususnya. Ia telah menulis hasil studinya tentang “perkembangan belajar”, yang merupakan suatu cara untuk mendefinisikan belajar. Brunner menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda di dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyetakan kembali peristiwa atau benda tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau dikenalnya.
Menurut Bruner, hal-hal tersebut dapat dinyatakan sebagai proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1) Tahap Enaktif atau tahap Kegiatan (Enactive)
Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Pada tahap ini anak masih dalam gerak refleks dan coba-coba, belum harmonis. Ia memanipulasikan, menyusun, menjejerkan, mengutak-atik, dan bentuk-bentuk gerak lainnya.
2) Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Bayangan (Iconic)
Pada tahap ini, anak telah mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam ventuk bayangan mental. Dengan kata lain anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialami atau dikenalnya pada tahap enaktif, walaupun peristiwa itu telah berlalu atau benda real itu tidak lagi berada di hadapannya.
3) Tahap Simbolik (Simbolic)
Pada tahap terakhir ini anak dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbul dan bahsa. Apabila ia berjumpa dengan suatu simbul, maka banayangan mental yang ditandai oleh simbul itu akan dapat dikenalnya kembali. Ada tahap ini anak sudah mampu memahami simbul-simbul dan menjelaskan dengan bahasanya,
- Tahap 1. Setiap kita melakukan pembelajaran tentang konsep, fakta atau prosedur dalam matematika yang bersifat abstrak biasanya diawali dari persoalan sehari-hari yang sederhana (peristiwa di dunia sekitarnya), atau menggunakan benda-benda real/nyata/fisik. (kita mengenalnya sebagai model konkret).
- Tahap 2. Setelah memanipulasikan benda secara nyata melalui persoalan keseharian dari dunia sekitarnya, dilanjutkan dengan membentuk modelnya sebagai bayangan mental dari benda atau peristiwa keseharian tersebut. Model matematika di sini berupa gambaran dari banyangan. (Model semi kongkrit atau model semi abstrak).
- Tahap 3. Pada tahap ke-3 kongkrit atau model semi abstrak). Digunakan simbul-simbul (lambing-lambang) yang bersifat abstrak sebagai wujud dari bahasa matematika.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan desain permodelan dalam menyampaikan materi pembelajaran terhadap siswa dikelas I SD khususnya pada materi pelajaran bangun datar dan bangun ruang, dimana penjelasan langsung dari gru sehubungan dengan tindakan dalam proses pembelajaran.
Untuk itulah benda-benda yang dijadikan permodelan seperti bangun datar Bujur Sangkar, Segitiga dan Bola, akan diperlihatkan kepada siswa secara langsung dapat diidentifikasi secara tepat. Tes hasil belajar dilakukan terhadap siswa kelas I SD sebanyak 39 Orang dengan dua tahapan sekelas yaitu tahapan uji kompetensi tes perbuatan dengan memberikan tes unjuk kerja pemberian soal isian singkat yaitu mengidentifikasi benda bangun datar dan bangun ruang. Dan tahapan uji kompetensi tertulis, selanjutnya menentukan pengelompokkan siswa yang dikategorikan lemah, sedang atau pandai dalamproses pembelajaran.
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu di SD Harapan Bangsa khususnya di kelas I SD
3.2.2 Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan dalam penelitian terhadap siswa kelas I SD di SD Harapan Bangsa yaitu dimulai bulan Mei hingga bulan Juni
3.3 Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Utama 2 Tarakan tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 40 orang. Sedangkan obyeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi kognitif dan aktifitas pembelajaran siswa.
Adapun nama-nama siswa yang akan dijadikan subjek atau sample dalam penelitian yaitu :
  1. Ahmad Fiqri Pratama
  2. Aldo Aprilleo Masengi
  3. Annisya Tarakanita
  4. Anugrah Sandi Pratama
  5. Atika Handayani
  6. Ayu Primadani Hadista
  7. Bayu Setyawan Pratama
  8. Danisa Alzura
  9. Dhea Nur Fadillah Maharani
  10. Dimas Rangga Pratama
  11. Dwi Kurniawan
  12. Eriana Salsabilah
  13. Fairly Nurahmadi Suyadi
  14. Fitrah Lukmanul Hakim
  15. Galiant Nauval Valent Jasenta
  16. Harmitha Putri Ardian
  17. Husna Dhiya Dwi Fitri
  18. Indah Cahyani
  19. Indriatno
  20. Isra Almubarak
  21. Jenni Anggraeni. S
  22. Junistio Nur Mut Dianto
  23. M. Anang Firmansyah
  24. Muhammad Alfiansyah
  25. Muhammad Fadillah Ramadani
  26. Muhammad Ridho Ulloh
  27. Nabila Putri Cahyani
  28. Nur Iqbal
  29. Oky Erlangga
  30. Panca Januari Yanto
  31. Pebriyan Pongsipulung
  32. Putri Eka Rizkiani
  33. Rahman Aer Patriawan
  34. Rika Andaresta
  35. Sanny Gidion
  36. Tata Dini Anygrah
  37. Vanes Ping
  38. Wira Natanegara
  39. Zaky Maulana Musyarof
3.4.Variabel Penelitian
Secara umum ada dua variable dalam penelitian ini yaitu variable bebas dan variable terikat. Sebagai variable bebasnya adalah penerapan permodelan pembelajaran dengan media bangun datar dan bangun ruang dalam pembelajaran kelas I, sedangkan variable terikatnya adalah prestasi belajar matematika, pada materi bangun datar dan bangun ruang.
3.5 Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi, dan refleksi.
Adapaun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian :

  1. Dapat memahami materi yang sedang dipelajari
  2. Dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari
  3. Senang dan aktif mengikuti pembelajaran
  4. Memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60
3.6 Teknik Pengumpulan data
Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut :
  1. Tes pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk tes isian tertulis dan tes perbuatan proses jawaban siswa secara rinci.
  2. Observasi : Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama kegiatan penelitian, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam dua siklus.
3.7 Teknik Analisa Data dan Kreteria Keberhasilan
Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskritif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata, ketuntasan individual (KI)< dan ketuntasan klasikal (KK), dengan indicator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60 (KKM Matematika Kelas I SDN Utama 2 Tarakan ) dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. Analisa data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Criteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan Mean Ideal (MI) dan standar Deviasi (SDI) dengan rumus :
MI = ( Skor tertinggi ideal + skor terendah ideal )
SDI = ( skor tertinggi ideal – skor terendah ideal )

 BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil Analisis Ulangan Harian Siswa Kelas I semester II siswa SDN Utama 2 Tarakan pada Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang terhadap 38 orang siswa, kiranya dapat disimpulkan antara lain:
a. Bahwa pada pembelajaran dengan menggunakan media gambar dapat mengatasi kesulitan belajar siswa pada Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang di kelas
b. Bahwa pada pembelajaran dengan media gambar pada Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang mampu membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa di SD Harapan Bangsa.
c. Pada hasil Analisis Ulangan Harian Siswa selama 2 siklus, hal ini menunjukkan keberhasilan proses belajar mengajar pada materi Bangun Datar dan Bangun Ruang di SD Harapan Bangsa.
B. Saran-saran
Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut di atas, maka ada beberapa saran yang perlu penulis sampaikan, diantaranya :
a. Guru Matematika yang mengajar di kelas I khususnya pada Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang sebaiknya menggunakan media gambar pada saat mengadakan tes hasil belajar siswa.
b. Terhadap guru Matematika, sebaiknya menjelaskan Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang sebaiknya tidak hanya mengambar di papan tulis, namun sebaiknya menggunakan permodelan Bangun Datar atau dengan menggunakan Media gambar, agar supaya murid lebih termotivasi dalam pembelajaran.
c. Untuk guru Matematika, dalam menjelaskan Materi Bangun Datar dan Bangun Ruang sebaiknya dapat menggunakan benda-benda di lingkungannya sebagai pengenalan pengganti bentuk Bangun Datar dan Bangun Ruang.
DAFTAR PUSTAKA
Darman Flavianus, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2004 tentang System Pendidikan Nasional, Cet-I, Penerbit Visimedia, Jakarta, 2007.

M. Khafid dan Suyati, Penekanan Matematika Pada Berhitung di Kelas 2, Penerbit Erlangga, Cet-I, Jakarta, 2002.

Mikarsa Lestari Hera, Pendidikan Anak di SD, Cet-IX, Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta, 2007.

Post a Comment

0 Comments