Kurikulum Baru Untuk Indonesia 2030



Ditengah berbagai macam permasalahan yang meliputi bangsa Indonesia seperti korupsi, kemacetan lalu lintas, narkoba, kualitas birokrasi, penegakan hukum, penguasaan teknologi, ketimpangan ekonomi antara kelas atas dan bawah serta pengelolaan SDA, Indonesia tahun 2030 diprediksi oleh McKinsey Global Institute akan menjadi negara maju. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil dan mengalami kecenderungan naik selama kurun waktu 4 – 5 tahun terakhir. Hal tersebut membanggakan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia terjadi ditengah krisis global dunia yang terjadi akibat dampak krisis ekonomi yang terjadi kawasan negara-negara di eropa. 

Prediksi yang disampaikan oleh McKinsey Global Institute harus membawa optimisme seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menyatukan visi dan merumuskan gerak langkah menuju Indonesia maju 2030. Indonesia maju adalah pasti, dan penting menyatukan visi, dan merumuskan gerak langkah menuju Indonesia maju 2030 diawali  dengan membangun kesadaran kolektif seluruh komponen bangsa termasuk masyarakat, dan kemudian bergerak bersama menyongsong kemajuan tersebut sesuai dengan kapasitas keahlian dibidangnya.

Kurikulum Baru dan Indonesia 2030

Optimisme menyongsong Indonesia maju tahun 2030 terbangun dikalangan kementerian pendidikan dan kebudayaan dimana kemendikbud merencanakan untuk merevisi kurikulum yang ada saat ini dengan kurikulum 2013, yang saat ini tengah memasuki uji publik. Uji publik yang dimulai sejak tanggal 29 November  2012 gencar mendapat dukungan masyarakat namun hal yang bertentangan muncul dari Anggota Komisi X, mantan pelawak Miing Bagito seperti dikutip dalam wawancarasaat Kunjungan spesifik Panja Kurikulum Komisi X DPR ke Solo, Propinsi Jawa Tengah ia menyampaikan bahwa ’’Pada kurikulum baru, yang dilatih hanya kecerdasan kognitif, tapi kecerdasan attitudenya tidak dilatih. Menurut saya masih kurang tepat (kurikulumnya)’’. Pernyataan Miing tersebut menggambarkan kedangkalan informasi yang dimilikinya mengenai kurikulum 2013 dan sangat disayangkan sebagai anggota dewan yang membidangi masalah pendidikan. Kurikulum 2013 disusun dengan memetakan tantangan masa depan, kompetensi masa depan, persepsi masyarakat, dan fenomena negatif yang mengemuka serta mempertimbangkan aspek kompetensi lulusan peserta didik yang meliputi 3 ranah yaitu ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap/attitude), dan psikomotorik (keterampilan).

Perumusan kurikulum didasarkan pada 3 aspek yaitu aspek filsafat, aspek sosiologis dan aspek psikologis. Aspek filsafat memberikan pengertian mengenai hakikat peserta didik, yang harus dilakukan peserta didik, dan yang harus menjadi isi dari kurikulum dengan demikian akan bermanfaat dalam menentukan arah peserta didik, memberi gambaran tentang hasil yang harus dicapai peserta didik, menentukan cara dan proses untuk mencapai tujuan itu, memungkinkan pendidik menilai usahanya sejauh mana tujuan tercapai, dan memberi motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan dalam proses pendidikan.

Aspek sosiologis memberikan gambaran mengenai kebermanfaatan kurikulum menjawab permasalahan yang terdapat dalam masyarakat, bangsa dan negara, kurikulum dalam aspek sosiologis harus mampu memberi solusi jangka menengah atau jangka panjang terhadap berbagai permasalahan bangsa semisal korupsi, narkoba, penegakan supremasi hukum termasuk solusi membangun basis ekonomi kerakyatan dengan memunculkan wirausahawan-wirausahawan baru, peningkatan teknologi, peningkatan kesejahteraan buruh dan petani.

 Aspek psikologis memberikan gambaran akan pentingnya memahami psikologi peserta didik, memahami bagaimana peserta didik belajar dan cara yang terbaik untuk mengajar. Aspek psikologi dalam pendidikan merupakan penerapan prinsip-prinsip psikologi terhadap problema proses pembelajaran. Lansadan psikologi membawa pendidik mengenal berbagai macam teori belajar, yang dikembangkan ke dalam model pembelajaran dan diterapkan dalam proses pembelajaran sampai pada evaluasi pembelajaran.

Bersambung …





Post a Comment

0 Comments